« Home | System Thinking »

System Dynamics

MODEL UNTUK ANALISIS KEBIJAKAN

Setiap manusia baik dalam kehidupan pribadinya maupun kelembagaannya secara naluriah selalu menggunakan model untuk membuat suatu kebijakan ataupun suatu keputusan. Model-model yang digunakan pun telah berkembang dengan pesat dari model mental yang dianggap paling primitif dan sangat sederhana kepada model-model yang relatif lebih rumit - sering disebut sebagai model komputer - yang mencoba menghilangkan kelemahan-kelemahan yang dijumpai dalam suatu model mental. Perkembangan ini tampak dengan jelas seperti penggunaan model untuk analisis kebijakan (pemodelan kebijakan) yang sangat luas dalam bidang ekonomi dalam bentuk-bentuk mathematical programming, cost benefit analysis, forecasting, dan instrumen-instrumen analisis sistem seperti econometrics, differential calculus, dan kombinasi-kombinasinya.
Dalam suatu organisasi baik yang kecil maupun yang besar, pemodelan kebijakan diharapkan menjadi suatu wahana yang dapat menemukan jalan dan cara yang efektif dalam mempengaruhi organisasi tersebut sehingga kinerja (performance) organisasi yang diinginkan dapat dicapai. Sehubungan dengan itu, tujuan pemodelan bukanlah hanya untuk prediksi saja melainkan untuk meningkatkan pemahaman kita terhadap gejala yang diamati. Konsekuensinya adalah bahwa teknik pemodelan yang dipilih haruslah sesuai dengan tujuan pemodelan itu sendiri, karena prosedur suatu pemodelan akan berbeda bergantung kepada tujuan yang hendak dicapai.

MODEL SYSTEM DYNAMICS
Sebagai salah satu pendekatan dalam pemodelan kebijakan, metodologi system dynamics telah dan sedang berkembang sejak diperkenalkan pertama kali oleh Jay W. Forrester pada dekade lima puluhan yang lalu dan berpusat di MIT Amerika. Sesuai dengan namanya, metode ini erat berhubungan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang tendensi-tendensi dinamik sistem-sistem yang kompleks, yaitu pola-pola tingkah laku yang dibangkitkan oleh sistem itu dengan bertambahnya waktu. Penggunaan metodologi system dynamics lebih ditekankan kepada tujuan-tujuan peningkatan pemahaman kita tentang bagaimana tingkah laku muncul dari struktur kebijakan dalam sistem itu. Pemahaman ini sangat penting dalam perancangan kebijakan yang efektif.
Proses pembuatan keputusan menyangkut fenomena-fenomena yang dinamis. Suatu fenomena dinamis dimunculkan oleh adanya struktur fisik dan struktur pembuatan keputusan yang saling berinteraksi. Struktur fisik dibentuk oleh akumulasi (stok) dan jaringan aliran orang, barang, energi, dan bahan. Sedangkan struktur pembuatan keputusan dibentuk oleh akumulasi (stok) dan jaringan aliran informasi yang digunakan oleh aktor-aktor (manusia) dalam sistem yang menggambarkan kaidah-kaidah proses pembuatan keputusannya.
Asumsi utama dalam paradigma system dynamics adalah bahwa struktur fenomena di atas merupakan suatu kumpulan (assembly) dari struktur-struktur kausal yang melingkar dan tertutup (causal loop structure). Keberadaan struktur ini sebagai suatu konsekuensi logis dari adanya kendala-kendala fisik dan tujuan-tujuan sosial, penghargaan (pujian) dan tekanan yang menyebabkan manusia bertingkah laku dan membangkitkan secara kumulatif tendensi-tendensi dinamik yang dominan dari sistem secara keseluruhan.
Beberapa contoh aplikasi model system dynamics antara lain di bidang-bidang bisnis, keuangan, ekonomi, industri, pemerintahan, energi, pendidikan, medis (kesehatan), dan lingkungan hidup.

Sumber : http://www.spitb.or.id/Matakuliah/System%20Dynamics/systemdynamics.htm